Sejarah

Secara resmi LSM Rumah Impian (Dreamhouse) berdiri pada bulan Februari 2009. Akan tetapi, sejarah interaksi dengan komunitas anak jalanan telah dimulai jauh sebelum itu. Interaksi itu dimulai pada tahun 2000 dengan kegiatan yang sederhana, olahraga bersama (kebanyakan sepakbola) di area kampus Universitas Gadjah Mada setiap Sabtu sore. Ketika itu beberapa mahasiswa mengajak anak-anak jalanan yang biasa berkumpul di perempatan Korem/Gramedia dan perempatan Pingit untuk berolahraga bersama. Kegiatan olahraga bersama ini masih bertahan hingga sekarang, hanya dipindahkan ke hari Minggu sore di lapangan depan Graha Sabha Pramana.

Dari interaksi awal ini kemudian sempat didirikan sanggar belajar yang berlokasi di daerah Gondolayu, yaitu pada tahun 2003-2005. Di sanggar ini, relawan-relawan yang memberikan les gratis dan pelajaran membaca-menulis-berhitung (calistung) kepada anak-anak jalanan dan masyarakat sekitar.

Sempat vakum selama setahun, pada November 2006, dibukalah rumah singgah di daerah Jetisharjo. Rumah singgah ini diberi nama “Dreamhouse“, dan menjadi awal mula dipakainya nama “Dreamhouse“. Anak-anak jalanan yang dikumpulkan di rumah singgah ini lumayan banyak, dan datang dari perempatan Jetis, Mirota Kampus, Tugu, dan Pingit.¬† Rumah Singgah ini kemudian sempat pindah ke Jetis Pasiraman sebelum akhirnya ditutup pada akhir 2008.

Ditutupnya rumah singgah ini tidak berarti kegiatan Dreamhouse berhenti. Justru setelah masa itu, kegiatan Dreamhouse menjadi semakin terfokus, yaitu pada kegiatan yang berbasis pendekatan langsung ke jalanan (street based). Di tahun 2008 ini juga, Dreamhouse membuka asrama bagi anak-anak jalanan yang telah siap untuk kembali ke sekolah dan membutuhkan lingkungan yang baru. Asrama ini disebut Hope Shelter dan berlokasi di Kalasan. Asrama ini dimulai dengan 3 orang anak jalanan yang memulai hidup baru sebagai pelajar di SDKE Mangunan, dan didampingi oleh dua orang pengasuh. Selain itu, sejak 2008 juga pendampingan yang dilakukan Dreamhouse terfokus pada dua titik, yaitu di perempatan Jetis dan perempatan Jombor.

Demikian sejarah ringkas LSM Rumah Impian (Dreamhouse). Satu hal yang menjadi pegangan bagi Dreamhouse adalah Dreamhouse selalu terbuka untuk belajar dan memperbaiki diri. Koreksi, kritik, saran merupakan kekayaan yang selalu disambut dengan sukacita, karena hanya dengan itu Dreamhouse bisa terus berkarya, dan berkarya dengan lebih baik setiap hari.

::