Balada Restu dan Rio # 2

Sudah lama saya tidak menulis lagi di website kita ini. Gangguan teknis yang ternyata cukup berkepanjangan membuat tidak sedikit cerita menarik dari aktivitas street contacting dan hope shelter yang terlewatkan.

Setelah website ini kembali normal, saya memeriksa artikel-artikel lama dan perhatian saya tertumbuk pada artikel ini Balada Restu dan Rio, yang ditulis sekitar setahun yang lalu, oleh a.m, seorang relawan street contacting.

Panjang lebar dikisahkan tentang Restu dan keluarganya yang berjibaku mencari nafkah di jalanan. Sang kakak, sudah lebih dulu kembali ke sekolah dan bergabung di Hope Shelter. Kehidupan jalanan yang keras dan penuh bahaya sangat kontras dengan Restu yang ceria, optimis, dan penuh semangat. Demikian juga dengan adiknya, Bagas, yang masih suka bergelayut manja pada ibunya, dan juga pada kakak-kakak relawan yang datang.

Hari ini, saya mau menulis lagi tentang Restu dan Bagas. Akan tetapi ini bukan lagi balada atau lagu sedih. Sejak tahun ajaran 2010/2011, Restu telah kembali ke sekolah dan bergabung ke Hope Shelter. Dengan perjuangan melobi pihak sekolah, karena Restu tidak punya surat-surat apapun, kami berhasil menempatkan Restu di kelas 3. Awalnya, Restu di sekolah itu hanya sebagai siswa titipan, namun karena semangat dan kerja kerasnya membuat dia mendapatkan nilai yang bagus, pihak sekolah pun akhirnya setuju menerimanya sebagai siswa penuh.

Hari-hari Restu di Hope Shelter sekarang ini adalah hari-hari yang penuh senyum, dan ceria dengan nyanyian-nyanyian riang. Bersama teman-teman di Hope Shelter, Restu juga adalah penggemar berat boyband dan girlband dari Korea, dan hampir setiap hari dia mengisi waktu kosong di sore hari dengan bernyanyi dan menari mengikuti idolanya. Mau lihat Restu bernyanyi? Ini dia videonya.

Setelah satu tahun Restu kembali ke sekolah. Si bungsu, Bagas pun akhirnya bergabung. Setelah cukup lama berusaha meyakinkannya bahwa ada banyak teman yang asyik di sekolah, Bagas akhirnya sepakat. Tidak butuh waktu lama untuk Bagas beradaptasi. Kemungkinan besar karena pengaruh positif dari kedua kakaknya yang sudah lebih dulu bergabung di Hope Shelter. Bagas pun sekarang bermimpi seperti anak-anak cowoknya sekelasnya yang lain: ingin menjadi pemain bola.

Melihat Restu dan Bagas, saya sangat terhibur. Balada bisa dirubah menjadi lagu gembira, bahkan diiringi tarian rancak ala K-Pop. Kuncinya adalah kesabaran, konsistensi, dan kasih sayang. Masih ada Rio, dan anak-anak lain dengan balada mereka di jalanan. Berbekal tiga kata kunci tadi, kami percaya, lagu-lagu gembira akan terdengar, dan tarian rancak akan bisa dipersembahkan.

Semangat!

Post a new comment