Stress Reliever
Bagi saya, saya hidup di dua dunia yang berbeda. Dunia pertama adalah tempat di mana saya membutuhkan pengakuan akan eksistensi saya, pencapaian yang sudah saya lakukan, prestasi saya, kemenangan saya (jika saya pernah menang akan sesuatu) dan semacamnya. Dan dunia yang kedua adalah tempat di mana saya dapat memuaskan kekosongan hati saya yang tidak bisa diisi oleh siapa dan apa pun yang ada di dunia pertama.
Saya tidak mau berbicara banyak soal dunia yang pertama karena somehow talking bout that stuff buat saya sakit kepala. Cukup saat saya berada di dalamnya saya sakit kepala. Dalam tulisan ini saya mau memberikan penghargaan yang sebesar2nya pada my second world which I would likely to call my sanctuary.
Satu kondisi di mana saya merasa I am in my sanctuary is when I do gathering with my lovely friends in Jombor junction. Tadi sore saya ke sana. Ke perempatan Jombor. Kondisi terbaru, markas mereka pindah ke seberang jalan (so Mbah Min, say goodbye to your annoying companion… J). Tempat baru lebih nyaman walaupun agak berantakan (kalau ga berantakan ya di hotel broo..). Tadi rame. Ada Gundul, Penjol, Deni (ni baru saya kenal), wajah lama seperti Erwin, Mas Galih dan istri tercinta Mb Kristin, little menace Eno, Tyo, Gayang, raja mendem Roni (Penjol juga raja mendem ya), pak bos mas Gendong, Fajar si bulu mata lentik, Restu , Bagas, Ibu Parjiem, dan ada dua wajah baru yang saya tidak tahu siapa namanya.
Ada lemari perpustakaan di sana. Mereka sudah pindahkan secara markas besar sudah pindah. Sempat terharu melihat buku2 yang semakin sedikit (baca: hilang). Saya berharap semoga hilangnya karena dibaca, bukan dibuat untuk bungkus pembalut atau ikan asin (hikske..sayang kali klo kek gitu).
Dan kita pun bercengkrama. Tentang apa yang mereka alami hari ini. Ada banyak cerita yang mereka share ke saya. Mulai dari Penjol yang ternyata mantan misdinar. Saya sempat shocked berat ketika Penjol cerita klo dulu dia mantan misdinar (same like me). Dia ingat ketukan untuk mukul gong saudara2. Hitung dalam hati 1,2,3 then dung…..bunyikanlah gongnya. Hahahahahahaha.. saya jadi bernostalgia sendiri kala dulu saya jadi martir di misdinar. Si penjol. Saya heran. Nama aslinya itu Andreas.. dan saya menerka2 sampai sakit kepala juga kok bisa jadi Penjol ya? Asal muasalnya dari mana?
Terus tadi Roni, Penjol, dan Mas Galih minta tambahan buku (oke bradar besok eke akan bergerilya di book fair). Kemudian Mb Kris cerita soal Eno yang pede. Yang sama sekali ga minderan walaupun dia ngamen (see my tough little girl..she rocks the world you know!!!). Dan cerdas. Kemampuan musiknya luar biasa. Potensi Eno itu tinggal dipoles sana sini..dia bisa jadi bintang cilik. Ga kalah la dengan si Maissy Ci..Luk..Ba itu.
Kemudian tadi Tio bawain krupuk berwarna putih ( saya ga tau namanya apa) buat dimakan bareng2. Dan dia beli krupuk yangakutaktahuapa dua kali. Terus saya bilang : banyak ya duit kau hari ini. Dia mesam mesem aja. Tapi saya merasa (perasaannya sulit dilukiskan..ini saatnya saya speechless) bahagia atau senang atau nyaman..(apalah itu kalau diblender jadi satu) kala bersama mereka. They fill what so called emptiness in my fragile heart. Dan ketika bersama mereka saya mendapat semacam stimulus untuk kembali beraksi di dunia pertama. Ketulusan mereka (menurut saya) membuat hati saya menguat dan siap berjibaku dengan para fakers..running my own rat race, battling with the painful stress, apa pun yang biasa saya hadapi di dunia pertama. Kalau tidak ada dunia kedua saya akan jadi zombie hidup. Yang tidak tahu apa yang saya lakukan, yang tidak tahu apa yang saya kejar. Saya melakukan sesuatu karena saya butuh pengakuan..pengakuan yang sampai dunia kiamat ga akan selesai2..terus ..terus dan terus sampe saya capek sendiri. Sukurlah saya ga capek2..cekakakkakak.
Saya ga tahu apa yang mereka rasakan tentang saya. But dari mereka saya belajar banyak. Tentang kebersamaan, kesederhanaan, keterbukaan, solidaritas dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya yang mungkin ga bisa saya temukan di dunia pertama. Saya jadi sedikit memahami (semoga pemahaman saya tidak salah) kenapa banyak anak jalanan. Kenapa mereka betah di jalan? Di situlah mereka merasa diterima. Tanpa harus jadi ini itu, tanpa harus bawa ini itu, dan sebagainya. Saya ga mau sotoy juga.. tapi sejauh ini kurang lebih itu hipotesa awal saya kalo ada pertanyaan kenapa banyak anak jalanan? Selain karena factor ekonomi susah cenderung payah ya.
Karena mereka sudah menjadi semacam stress-reliever bagi saya, saya berterima kasih sekali. Saya ga tau saya bisa kasih apa ke mereka. Kita sama2 geng kere je. Selama mereka nyaman dengan kehadiran saya dan apa yang saya lakukan okelah. Memandang mereka dari kejauhan dengan segala aktivitas mereka sudah membuat hati saya meleleh. Dan seperti biasa hati nurani saya yang sudah diberi gizi oleh mereka protes sama Big Boss..please do something to them Lord. Kasih kerjaan kek, apa kek, pokoknya yang bisa buat hidup mereka lebih baik (walaupun tetap di jalan, klo mereka ga di jalan saya kehilangan my stress reliever dong..cekakakak.kidding). Saya yakin Tuhan hanya geleng2 kepala. Mengubah nasib manusia gampang. Mengubah karakter manusia, apalagi kalau sudah bawaan orok..yeah..jika tidak ada kerelaan dari manusia yang bersangkutan, sampai lebaran kuda juga ga akan selesai. Tapi saya percaya satu hal…manusia memang tidak bisa mengubah sesamanya. No we cant. Kita bisa saling mendukung, saling menemani sampai Tuhan ambil andil buat perubahan setiap kita. Termasuk untuk mein liebe freundin im Jombor. Do our best. God take the rest. He always takes the rest (baca: Dia tidak pernah beristirahat ya. Beliau mengurus segala kekacauan yang kita buat karena He loves us more than we know you know). Heheheheheheh.
a.m



LSM Rumah Impian