It’s jamming time
Dulu, kapan pastinya saya lupa. Saya makan di food fezt bersama teman2. Kebetulan hari itu ada live performance dari band local.. saya ga tau siapa nama bandnya. Dan mereka menghibur saya dan pengunjung lain yang datang ke food fezt entah untuk makan ataupun ngeceng. Nah kalau dalam pandangan saya, bandnya ini tak seberapa ya. Tapi gayanya cuy..macam dia udah tampil di broadway aja. Suara juga ya…beda tipis juga sama suara saya. Vokalisnya sok keren. Cowok yang gmana ya…sok menjiwai lagu yang dibawakan tapi ga pas. Kelihatan sangat artificial dan otak saya langsung memberi tanda silang pada band ini. You’re fake. Itu kecam otak dan hati saya. Padahal ga ada gunanya juga saya seperti itu ya. Hehehehe.
Nah kemudian hari jumat tanggal 30 juli, saya kembali bertapa di Jombor. Melepaskan penat sambil bertemu dengan sahabat2 saya yang unik asik dan tak biasa. Seperti biasa juga saya langsung mengambil hot spot di trotoar jalan sambil memperhatikan tingkah laku Erwin, Eno, Rio, Momon dan sebagainya. Eno masi tetap semangat sekolah. Mb Kristin ibunya bercerita, awal sekolah Eno sempat malu karena diledekin paling hitam di sekolah. Malu dia kak,,,kawannya putih semua..tapi sekarang karena sudah kenal jadi ya dah biasa dia. Saya membayangkan diri di posisi Eno. Bagi anak kecil merasa berbeda dari yang lain adalah haram. Beda dengan orang dewasa. Berlomba2 jadi beda sampai menipu diri sendiri. Dikucilkan dalam pandangan anak kecil adalah mengerikan. Dan saya merasa si kecil Eno sempat jiper juga ketika dikatain hitam. But dunia anak kecil adalah dunia yang jujur. Mungkin pada awalnya teman2 eno merasa aneh karena eno hitam sendiri tapi setelah dikenal lebih jauh, ya eno sama seperti mereka. Gadis kecil menyenangkan dan suka diajak bermain bersama.
Dunia anak kecil memang permisif ya. Permisif dalam artian kalau ada orang baru yang compatible dengan radar mereka, maka mereka dengan hangat menyambut kita ke dalam dunia mereka yang polos, jujur dan penuh canda tawa.
Nah saya ngelantur ke bagian Eno. Maaf. Yang membuat saya berbahagia ketika di Jombor 30 juli kemaren adalah saya menemukan musisi jalanan yang berbakat tapi ga bisa berkembang karena dihalangi oleh keterbatasan baik dana, kesempatan dan apa pun itu tetek bengeknya. Jadi kemaren itu muncullah dua pendekar music Jombor yi Mas Amir dan Mas Galih (bapaknya Eno). Mereka dengan piawai memainkan lagu yang sangat tidak popular di kalangan anak jalanan. Mereka bisa menyanyikan lagu la bamba (lagu latin..klo saya tidak salah ingat judulnya). Diajak reggae dengan lagu Santeria dari sublime pun ok. Wah saya benar2 salut. Kalo diibaratkan film lebay kartun, salutnya saya seperti mata melotot keluar, ada love2nya, terus melolong seperti serigala malam.. yah begitulah. They’re awesome and God..why life is so unfair….. sayang bakat mereka sia2 begitu saja.
Jadi saya pun turut berkaraoke gratis dengan dua musisi ini. Saya nyanyi lagu Coldplay, Saybia, Maroon Five dan Dashboard Confessional. Mas galih main jimbe dan mas amir main gitar. Hohoho.. tanya saya bagaimana rasanya berkaraoke di jalan. Menyenangkan!! Walaupun pengucapan bahasa inggris kita bertiga agak2 acak adut.. tak mengapa. Saya juga merasakan semangat mereka dalam bermusik. Semangat atau kerinduan saya juga tidak tahu. Yang pasti saya yakin dua pendekar ini sebenarnya ya kalo ditempa, dipoles, dimandiin pasti ga kalah sama penyanyi slebor ga mutu yang saya liat di food fezt. Semuanya soal kesempatan. Dan mas amir menimpali: komitmen juga mbak. Susah membentuk komitmen di kalangan anak2 jalanan kalau mau bermusik scara professional. Yap benar sekali mas. Susah memang kalau sudah bicara masalah komitmen dengan anak jalanan.
Jadi temans, yang saya tekankan dalam tulisan saya kali ini adalah mas galih dan mas amir hebat.hehe .. emang iya. Saya yakin kemaren ya pengendara motor ataupun mobil yang terpaksa berhenti di perempatan jombor karena lampu merah sempat kagum juga dengan kepiawaian mas galih dan mas amir memainkan alat music. Saya pun sempat membatin,semoga ada produser music yang liat dan kemudian niat mengorbitkan mereka. Kalau saya produser music dan saya punya banyak duit, dengan senang hati saya akan mengorbitkan mereka. Masalahnya saya buta sama hal2 yang begitu. Mereka keren. Benar. Sempat terbersit juga maunya penyanyi slebor di food fezt itu melihat ya bagaimana mas galih dan mas amir maen music kemaren, biar dia ngerasa bukan dia aja yang bisa sok keren di food fezt. Kita pun bisa. Sok keren. Di perempatan lagi. Lebih banyak yang liat.
Saya jadi berpikir kehidupan yang lebih baik (baca: tidak di jalan lagi) sebenarnya tidak perlu menunggu akan datangnya sebuah kesempatan. We don’t need any good chances to boost up our life. Anggap saja kesempatan yang baik adalah sebuah hadiah dari Tuhan karena kita sudah berusaha. Saya berniat meracuni teman2 saya di jombor utk tetap berkarya. Biarlah awalnya sebagai pengamen di jalan, nanti berkembang jadi pengamen di lesehan terus jadi penyanyi tetap di kafe2…dan begitulah terserah mereka mau meneruskan sampai mana. Sembari mendampingi mereka 2 atau 3 kali seminggu saya ingin agar teman2 saya ini memahami esensi dari hidup yang diberikan Tuhan. Bukan sekedar kuantitas saja, tapi juga kualitas. Bahkan saat di jalan pun, hidup saya bisa berkualitas karena saya bersama mereka. dan bagi mereka yang sudah khatam dengan istilah merasa cukup, hidup berkualitas cukup ketika mereka nongkrong di perempatan, ngamen, ngobrol bareng, atau bertualang ke solo atau bandung naek truk dan sebagainya. Yah tidak produktif memang kelihatannya, tapi jika saat ini hal yang seperti itu yang mereka anggap berkualitas ya sudahlah. Manusia berubah. Dan saya yakin teman2 saya di jalan ini juga pasti nanti berubah. Menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Sembari menunggu kesempatan itu datang, mari kita bersuka ria. It’s jamming time!!



LSM Rumah Impian