balada restu dan rio
Restu dan Rio adalah dua anak jalanan yang sering saya temui di Jombor. Mereka bukan saudara kandung. Mereka melakoni profesi yang sama yi sebagai pengamplop di perempatan jombor. Rio saya taksir umurnya sekitar 6 atau 7 tahun sementara Restu umurnya sekitar 9 sampe 10 tahun. Restu lebih lama berada di jalanan dari pada Rio. Ya iyalah… saya sendiri sangat tertarik menceritakan mereka karena yah nama mereka sama2 R (alasan ga mutu juga). Hoho saya tertarik menceritakan kisah tentang mereka sehingga kita bisa memahami mengapa anak jalanan itu betah di jalan. Layaknya tanaman padi. Mereka itu ibarat gulma.. yang klo dicabut ya muncul lagi. Dan membuat kita menjadi lebih maklum juga bahwa mengatasi masalah anak jalanan tidak sekedar beretorika mencari dana, jebret, rancang program, jebret, duit habis, jebret,,dah balik lagi lah orang tu ke jalan. Jiah…
So let me introduce you to Restu. Gadis kecil yang putus sekolah entah karna alasan ekonomi atau karena memang tidak doyan sekolah, saya pun tidak tahu, yang profesinya adalah sebagai pengamplop ( istilah ngamen saya gunakan untuk teman2 jalanan yang nyanyi entah bermodal kencrung ataupun tepuk tangan tak jelas termasuk kricik2 dari botol aqua yang diisi pasir). Klo menadahkan tangan dan meminta, saya anggap itu profesi pengemis ( saya anti sekali sama orang kyk gini). Restu termasuk breadwinner di keluarganya. Keluarganya sendiri terdiri dari Restu, sang ibu, selanjutnya disebut ibu parjiem, dan adik lelakinya, bagas aka tumo. Restu punya bapak, tapi belakangan bapaknya tidak pernah nampak lagi dan selidik punya selidik, si bapak dapat kerjaan di purwodadi (if I am not mistaken). Restu juga punya seorang kakak. An—. An— saat ini mendapatkan full scholarship dari LSM Rumah Impian dan sekarang sedang bersekolah kelas 6 di SD M——-. Praktis sekarang hanya Restu, Bagas dan sang Ibu. Restu anak yang bersemangat. Semangat dalam artian mencari duit. Dia biasa ngamen di bis. Bisnya itu mondar mandir 3 sampe 4 kali ya. Dan biasanya Restu mendapatkan hasil ngamen di bis sekitar 20 – 30rb. Adeknya bagas lebih statis pergerakannya. Hanya di sekitar perempatan. Sementara Restu sudah menjelajahi bis dan pernah sampai di magelang juga. Restu anak yang manis. Same with her sister. Dan tak jarang, saya sering kali mendapati tindakan menjurus ke pelecehan yang dilakukan oleh teman2 jalanan yang cowok terhadap Restu. Yah bagi mereka bercanda, tapi nurani saya sebagai perempuan kalau melihat gadis kecil dikeroyok dan disorakin rame2, digendong begitu, kok gmana ya.. seperti barang! Kadang saya marahin juga anak2 cowok yang suka mengganggu restu. Tapi sejauh ini Restu belum ada protes soal tingkah laku anak cowok tersebut, jadi..ya sudahlah, pihak yang menjadi objek belum keberatan. Kalo sudah keberatan, langsung kita bertindak.
Sewaktu pertama kali mengenal Restu, dia anaknya irit bicara. Menjurus ke pemalu juga. Terus tidak terlalu hiperaktif seperti Eno atau bagas. Namun setelah beberapa lama saya bertapa di Jombor, restu jadi lebih banyak berkicau. Restu pernah cerita. Sewaktu dia ngamen di Demak Ijo ada pemeriksaan dari Pol PP berkolaborasi dengan Polisi. Restu langsung ngabur. Aku lari ke sawah Mbak. Ujarnya. Terus sewaktu dalam pelariannya ke sawah, sendalnya nyungsep tak tau di mana dan tasnya jatuh. Karena Restu lebih sayang harga dirinya dan waktunya yang terbuang sia2 klo ditangkap dan dikuliahi 10 sks sama petugas Pol PP , restu tak lagi peduli pada tasnya. Terus aku tanya weh duitnya pye? Ternyata Restu cerdas, dalam kondisi terjepit dia mengeluarkan uang hasil ngamennya dari tas dan memasukkan ke kantong. Dan loloslah dia sodara2. Saya membayangkan adegan laga dalam film umm apa ya… yang ada aksi kejar2an dengan penjahat.wah pasti seru ya.si Restu pasti berdebar2 jantungnya, adrenalin meningkat. Kayaknya kalau mau uji adrenalin daripada bayar mahal maen bungee jumping lebih oke ngalamin hal kayak Restu, tapi berhubung saya bukan pengamen, jadi Pol PPnya bisa diganti anjing gila atau orang gila atau perampok..kyaaa.. (just my imagination..skip it). Yang pasti tadi saya senang dan merasa sedikit berguna karena Restu dengan senang hati juga berbagi pengalaman dia kabur dari Pol PP.
Terus restu pernah juga berujar seperti ini, kak kalo masuk asrama kayak mba anis, nek ora kerasan, boleh keluar ga? Eng ing eng… radar saya langsung bekerja. Jarang restu menanyakan mengenai masalah kembali ke sekolah, walaupun dari awal kita selalu dorong Restu supaya mau sekolah lagi. Secara umurnya masih cukup. Saya jawab begini, ga boleh keluar. Karena klo kamu keluar, duit yg kita keluarin utk biaya sekolah kamu jadi sia2 dong. Klo kamu bisa ganti semua duit yang kita keluarin, mungkin ada pertimbangan lain. Restu langsung terdiam. Lama dia merenung. Saya langsung berpikir, jangan2 restu sudah mulai jenuh dengan rutinitas dia di jalan. Dia mau sesuatu yang baru dan saat ini sesuatu yang baru yang ingin dia coba ya (dicoba ya bukan diniatkan) adalah bersekolah. Anis adalah salah satu factor pendorongnya. Restu pasti penasaran seperti apa keseharian kakaknya yang notabene sudah tidak di jalan lagi. Saya pun kalau jadi restu akan penasaran.
Sukurlah niat restu tidak pernah ditentang orang tuanya. Terutama sang ibu. Ibu parjiem. Ibu yang kalem dan setelah dikenal lebih jauh sebenarnya berkarakter juga, punya keinginan agar semua anaknya sekolah. Walaupun saya bingung juga, lah buk, nek anakmu sekolah kabeh, pye nasibmu buk… secara roda kehidupan ibu parjiem kan ditopang oleh hasil ngamen Restu dan Bagas. Hayah sama seperti Restu, ibu parjiem pun sudah jenuh juga kali ya di jalan. Mungkin bu parjiem sudah merindukan hidup happily ever after di mana dia bisa menyaksikan anak2nya bersekolah, sukses dan menjalani kehidupan yang lebih baik daripada yang pernah dia alami. Itu deskripsi ngalor ngidul soal Restu.
Sekarang Rio. Bocah kecil kelas satu sd ini nasibnya sedikit lebih malang dari Restu. Itu yang saya lihat. Dia sekolah. Orang tuanya punya motor. Tapi setelah sekolah, dia disuruh ngamplop di perempatan oleh orang tuanya. Entah apa yang ada di benak orang tuanya. Apalagi dari selentingan yang saya dengar, Rio itu wajib mengumpulkan duit 100rb setiap harinya. Wew..now you know… giving them cepek, gopek, seceng, goban, goceng.. aren’t not helping anyway.. it keeps them stay still in stupid poverty endless circle. Saya pernah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, si Rio nangis. Waktu saat itu hampir jam 6 sore. Dia nangis di perempatan sambil ngamplop. Kata mb Kristin, klo belum nyampe seratus ribu dia dimarahin e mba sama ibunya. Ibunya itu memang agak gila kalau masalah duit. Saya lihat Rio memandang nanar ke arah wartel ( di situlah ibunya bersarang dan mengintai kalau2 Rio tidak menjalankan tugasnya). Yang buat saya kesal setengah mati, si ibu ini tidak mengijinkan rio singgah sebentar buat membaca atau bermain dengan kami. Jadi mau lampu merah kek, hijo ataupun kuning di perempatan itulah dia ngetem sepanjang segala abad sambil memandang menerawang ke arah kami. Ingat perkataan saya soal dunia anak kecil. Dikucilkan adalah haram. Dan saya yakin sekali, Rio itu sebenarnya pengen teriak2 gembira sama si eno atau tumo. Pengen juga pegang kamera walaupun ga ngerti yang dipoto apa. Pengen liat juga kamera canggihnya maulpi. Pengen main ketipung koplo yang sering dibawa fajar. dan semuanya pupus karena senyuman maut sang ibu yang di depan kita beramah tamah dan mengatakn iya mbak,,gpp..klo rio mau maen,,ya main aja. Saya ga ngelarang mbak… but di belakang kita “SON GO GET SOME BUCKS!!!MAKE IT UP TO 100 THOUSAND RUPIAHS EVERY DAY. GOT IT SON!!! Dan si rio hanya manggut2 pasrah. Saya ga heran kalau nanti umur Rio mencapai 15 tahun atau 16 tahun, dia akan lari dari rumah dan mencari dunia baru. Untuk sementara karena kepolosan otaknya dia nggah nggeh nggih aja sma mamaknya yang menurut saya lebih mirip apa ya… huff.. saya terlalu banyak menghujat. Maafkan.
Dan yang buat saya heran, bisa ya mereka..punya motor sodara2..hanya dengan nyuruh anaknya ngamplop tiap hari. Bah bah bah.. ga habis pikir saya. Itu tuh orang tua dimana otaknya ya… beh,,jual kek motornya.. cari kerja kek jadi apa.. teganya nyuruh anaknya… ampun,,,buah hatinya turun ke jalan. Sementara anak2 lain dijadikan dewa sama orang tuanya. Dikasih makanan bergizi tiap hari, klo ada latest toys langsung dibelikan, diajak jalan2 ke sana ke sini. Dikasih baju bagus. Hah.. kalau bicara ketidakadilan seperti ini, saya sendiri yang stress. Sudahlah lupakan soal itu. Kapan2 kalo saya bisa ngobrol empat mata dengan ibu rio, saya Cuma mau tanyakan satu hal saja: buk..kok tega kau buk nyuruh anak kau ngamen? Enggaknya cacat kau buk, sehatnya kau. Gemuk.. tapi kau suruh anakmu kerja.. kalo ga ada otakmu buk, kau pake lah otakku. Gpp pun. Huff. Saya kesal. Benar.
Dan dari situ saya menarik kesimpulan, dealing with street children, ist totally complicated. Kadang ketika niat si anak keluar dari jalan sudah mencapai semangat lebih dari semangat 45, datanglah orang tuanya dengan mental kue bolu ( sekali pijak langsung hancur, mental manusia pemalas) mematahkan semangat 45 tersebut. Kenapa bisa? Bisalah.. anak dia kok. Huff. Dan ketika si ortu yang semangat 45, si anak yang ogah2an. Sadarkah kita sodara2, setiap kita kasih duit cepek, gopek, seceng, goceng, goban ke anak2 seperti Rio , Bagas or Restu, kita turut menyumbang stabilisasi posisi mereka sebagai pengemis di jalan. Percuma ada program keren2, menghabiskan dana ratusan milyar klo tetep, ada aja orang yang ngasih duit ke anak jalanan. Jadi bagi saya anak jalanan pantas diberikan uang ketika mereka menghibur saya, anda, kita. Dengan kata lain mereka jadi musisi jalanan. Jadi bukan sekedar menadahkan tangan, minta buk, ga makan satu minggu. ( bagus buatlah satu tahun, baru dtang lagi kau samaku biar kukasih makan). Saya ga skeptic sama anak jalanan. Saya skeptic sama pengamen dan peminta2 di jalan itu. Entah itu bisa dikateogorikan sebagai anak jalanan juga. Saya pun paling palakkkkkkkkkkk sepalak2nya klo liat orang tua menggunakan anaknya sebagai alat untuk mencari nafkah. Ah ..keknya perlu lah si aris merdeka sirait itu datang kasih kuliah 10 sks sama orang tua yang kek gitu. Biar sadar. Dan memang perlu sinergi bos. Antara lsm yang mendalami bidang pemberdayaan anak jalanan dengan pemerintah daerah dan kalau perlu dengan masyarakat juga. Bagaimana rancangan kerjanya? Aduh saya pun belum bisa menggambarkannya. Yang pasti ketika berbicara masalah anak jalanan, itu bukan tugas pemerintah saja, atau tugas lsm atau tugas si anak jalanan itu sendiri. Semua orang terlibat…minimal ga terlalu sering ngasih duitlah ke pengemis, tukang minta2 di jalan itu. Itu yang bisa kita lakukan sebagai orang awam. Nanti ahli2 kebijakan itu yang ngerancang solusi komprehensif buat masalah ini. Akarnya dimana coba? Masalah Anak jalanan ini? Menurut saya semuanya berawal dari apa ya? Kemiskinan? Keserakahan penguasa menimbun lipatan lemak di perut mereka sendiri? Ketidakpedulian akan sesame karena mengurus diri sendiri saja sudah cukup menyita waktu? Atau apa? Kita renungkan bersama teman. Maaf kalau ngelantur sana sini. Semoga dapat intinya ya.
a.m



LSM Rumah Impian