merasa cukup


Saya yakin kita semua pernah mendengar istilah kalau manusia tidak pernah merasa puas ataupun cukup dalam hidupnya. Mungkin saya pun melakoni rat race for my own life. Berlomba2 mengejar sesuatu yang saya sendiri tidak tahu juntrungannya.

Tapi bertapa di perempatan Jombor sejak Juli 2009 kemaren sampai sekarang mengajarkan saya banyak hal. Kehidupan komunitas abakura yang diketuai mas  gendong (dalam pandangan saya) mengajarkan sisi lain dari sebuah kehidupan yang so hectic ataupun so zombie alias so plain seperti yang sedang saya lakoni.

Saya tidak tahu bagaimana masyarakat memandang mereka. Setiap kali ada pengendara motor yang terpaksa berhenti karena lampu merah, pasti sesekali atau beberapa kali melirik dengan sebelah mata ataupun terbelalak (karena melihat saya pastinya, I’m gorgeous huh..) kepada komunitas anak jalanan di jombor. Kalau kata clara, seperti melihat ikan di akuarium.

Saya berpikir..di sini siapa ikannya? Kita (baca: lina dan kelompok anak jalanan jombor) atau mereka (baca: bukan kita pastinya). Kalau menurut saya..semuanya ikan. Semuanya orang yang celingak celinguk ga jelas ke akuarium. Mereka menilai kita dan kita pun menilai mereka.  Saya pernah ngobrol dengan om yadi..si manusia tato sisik tak jadi ( sebutan istimewa hanya berlaku di tulisan ini), mas coba kamu ga di jalan…kamu bisa loh naek mobil kayak gitu, pake dasi..cewek manapun pasti nempel..terus sempat juga menggoda Erwin..”kalo kamu tetap sekolah win, cewek yang jadi model iklan rexona yang keteknya putih mulus tanpa bulu itu mungkin bakal kamu gaet..klo kamu tetap di jalan..yah minimal kayak mami wati lah”..

Mereka berdua hanya cengengesan miris. Saya bilang..kalo masalah mampu..saya yakin kalian mampu..tapi maunya ini.. yang susah.. saya survey beberapa anak jalanan. Bertanya mengapa mereka betah di jalan, kerasan di jalan..bahkan tio dengan  pede menyebut dirinya gelandangan abadi ( oh Tuhan)..

Jawaban mereka simple: ga ribet. Iya benar juga. Mereka hanya hidup untuk dirinya sendiri. Cari makan ya untuk diri sendiri, cari duit ya untuk sendiri..klo lebih baru  berbagi dengan orang lain. Klo kerja ga ribet..ga perlu modal, tampang atau apa pun. Cukup kencrung suara serak2 dan hapal lagu melayu teranyar cukup sudah…

Tapi sempat juga mereka terhenyak ketika saya tanya : mau sampe kapan? Dan tidak ada yang bisa menjawab. Bahkan mas  geong yang sempat ditawarin kerja jadi cleaning service sepur pun kembali lagi ke jalanan. Kehidupan jalanan yang so texas..( keras keras gimana gitu) ternyata ngangenin juga.

Ah jadi lupa..kaitannya dengan paragraph pertama  jadi terabaikan. Yah mungkin mereka betah di jalan karena ga ribet, ga perlu mikir berat2 de es be de es be.

Tapi menurut saya:

Kesederhanaan dan kejujuran dari setiap episode kehidupan yang mereka lakoni setiap hari di jalan, itu yang membuat mereka betah dan kerasan. Saya pernah bertanya sama satu anak baru, kalo tidak salah namanya dini (sekarang tidak pernah kelihatan lagi), kenapa kok suka di jalan to dek? Dia bilang , baik mbak anak2nya. Ramah (rajin menjamah heheheh). Dan tidak menuntut apa2 ketika kau mencoba masuk ke dalam kelompok mereka. Bandingkan klo mau masuk DPR dan komunitas bergengsi basi bau busuk di antah berantah tak jelas itu!!!.  Saya rasa…ketika saya bersama mereka saya tidak perlu mengenakan topeng2 bodoh yang kadang kala saya kenakan ketika bertemu orang yang meminta saya memakai topeng paok itu. Apa adanya. Saya dan mereka dan kita pun bersama2 duduk, bercerita kadang tertawa di perempatan tersebut. Dan kadang anak2 kecil turut nimbrung. Reveal  the sweet little menace, bagas  si tu apa, or eno si kecil yang dewasa sebelum waktunya.. . dalam otak saya seperti sebuah the big picture of a family.. Jombor family. Yang menurut saya lagi sudah belajar mengenal kata cukup.. yang bersyukur dengan hasil ngamen yang tak menentu setiap harinya. Yang tidak lupa berbagi rokok, makanan , minuman, bahkan penyakit kulit juga dengan sukarela dan tanpa beban. Yang saling menjaga juga. Saling menindas juga pastinya ( tetap saja ada cerita kelamnya kan..tapi saya tulis kapan2 saja) .

Mereka juga sudah puas diri dengan kondisi mereka sekarang. Itu yang buat saya gemas.  Tapi buat saya belajar juga. Orang yang dengan segala keterbatasan seperti itu saja mengenal kata cukup dan puas.. tapi saya…hehehehehe.. jiwa muda bung..cobalah semua sebelum terbentur usia dan kewajiban2 sebagai anak yang baik dan benar. Mungkin kamu juga seperti itu.. dan merasa ih..ngapain sih ngamen? Bla blabla…kerja kek..jadi ini kek itu kek.. Mari seperti saya…menghargai pilihan mereka untuk mencukupkan diri dengan profesi mengamen di perempatan. Namun..saya masih ragu..merasa cukup.. ternyata tidak baik juga ya..

Saya dari dulu selalu berpikir apakah kehadiran anak jalanan di setiap sudut kota besar adalah degradasi masyarakat atau merupakan bentuk protes terhadap banyak orang yang selalu mencari keuntungan terhadap diri sendiri padahal hartanya dah cukup buat ngasih makan negara Ethiopia. Entahlah.. yang pasti bersama mereka saya selalu diingatkan untuk selalu bersyukur karena merasa lebih dari cukup dengan apa yang saya miliki sekarang.. dan rasa syukur saya tidak saya salurkan dalam bentuk uang receh 100 atau 200 yang diberikan pengendara yang terpaksa berhenti di perempatan..Itu bagian mereka saja.. bagian saya..

Hum…bagian saya? Saya pun sedang berkontemplasi mengenai itu..heheheheh.

a.m

Tags: , , ,

3 Responses

  1. admin says:

    ceritanya seru, boleh gabung jadi relawan gak ?

  2. handri says:

    Nice share !!! Ajib, Mantabs!, sip, luar biasa, menyentuh hati. Pengen belajar dari para relawan dream house menghadapi anak-anak yg masih dipandang sebelah mata (termasuk oleh saya, he3) :)

    • admin says:

      tengkiu sudah mampir mas handri, kapan kapan kita bisa bertemu dan bertukar pikiran hehe….

Post a new comment