Indahnya Menjadi Sahabat

Kita harus akui bahwasanya kondisi anak jalanan dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun masih dalam takaran memprihatinkan. Kondisi kehidupan mereka masih berkutat pada pertanyaan, mau makan apa esok hari?, masih bisa makan atau sekedar minum kah esok hari?, bahkan pertanyaan yang mungkin lebih sadis yaitu masih bisakah bernafas esok hari?. Pertanyaan ini bersifat substantif jika kita bisa melihat dan merasakan kondisi kehidupan anak jalanan secara langsung. Akan tetapi, kita harus akui juga sampai saat ini  ada dan belum ada perubahan yang cukup signifikan dari kehidupan jalanan. Anak jalanan setiap hari tetap setia surfing mengarungi kehidupan jalanan yang penuh dengan ketidakpastian dan sejatinya satu hal yang membanggakan anak jalanan masih bisa tersenyum dan bersyukur dengan kondisi tersebut.

Memang secara kasat mata, dekat atau bahkan melihat anak jalanan dari jauh pun merupakan suatu ketidaknikmatan dan ketidaknyamanan tersendiri bagi sebagian besar orang. Orang-orang masih “menggenggam erat” beraneka ragam dan macam stigma-stigma yang melekat pada anak jalanan sehingga hal ini yang mempersulit suatu interaksi dan relasi yang positif dan progressif  dalam rangka untuk membantu anak jalanan terbebas dari kehidupan yang penuh dengan ketidak layakan tersebut. Akan tetapi, mari kita bersama-sama melangkah walaupun hanya satu langkah ke dapan untuk bisa menerima suatu ralitas sosial atau keadaan masyarakat kita yang benar-benar (real) terjadi ini.

Dalam hal ini, kita tidak butuh seorang yang Tokenisme (di hadapan publik terlihat baik akan tetapi di hatinya sangat busuk), OMDO (Omong Doank), penceramah, hipokrit, pembagi-bagi hadiah, dan apa pun terminology lainnya yang masih mengandung makna ketidak ikhlasan dan ketidak sukarelaan untuk menerima dan memberikan sesuatu demi kebaikan bersama. Yang jelas untuk semua massa, kita membutuhkan orang yang penuh Keikhlasan dan Kesukarelaan untuk senantiasa membatu dan menolong atas nama kemuliaan, pengabdian, dan kemanusiaan, menghargai dan menghormati sesama tanpa ada sebuah gap-gap yang lebar dan menunjukkan primordialisme yang tinggi. Kita harus optimis dan percaya bahwsanya kita masih memiliki sifat-sifat fundamental sebagai manusia yaitu empati dan sosialis (tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain).

Menjadi Sahabat anak jalanan adalah memang menjadi suatu pilihan di dunia ini. Akan tetapi, pilihan menjadi sahabat jalanan sangat jelas dan terasa keindahannya ketika kita sepenuh hati berkomitmen, mau melebur menjadi satu dengan kehidupan anak jalanan, dan mau berbagi pengalaman atau ilmu pengetahuan (wawasan) dengan anak jalanan, serta mau berbagi kue kesuksesan dengan anak jalanan. Sejatinya anak jalanan butuh perhatian bukan di perhatikan. Dengan menjadi sahabat jalanan, kita dapat merasakan dan memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan saudara-saudara kita yang tidak beruntung ini. Kita dapat memahami dengan jelas akar dari masalahnya sehingga kita dapat menemukan sebuah solusi yang lebih manusiawi, lebih mendidik, dan lebih efektif dalam rangka membantu anak jalanan terbebas dari kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian dan bahkan dalam mewujudkan mimpi-mimpi anak jalanan.

Menjadi sahabat anak jalanan adalah suatu keindahan. Dengan menjadi sahabat jalanan, nilai-nilai hidup yang sesungguhnya kabur dalam kehidupan sekarang ini dapat kita lihat dan rasakan. Solidaritas, kesetiakawanan, saling berbagi, saling menolong, mandiri, survive, dan egalitarian adalah keindahan-keindahan yang melekat dalam kehidupan anak-anak jalanan yang penuh dengan kesederhanaan.

Tags: , ,

3 Responses

  1. admin says:

    seru ni kayaknya jadi relawan pendampingan anak jalanan. boleh gabung ?

  2. ochy-bizkit says:

    sangat boleh gabung. kita pasti menunggu kedatangan tmn2 yg mau gabung dgn kita2.

  3. [...] This post was mentioned on Twitter by JogjaUpdate. JogjaUpdate said: #JogjaUpdate berita dari pendampingan anak jalanan per4an jombor #jogja #jmr2010 http://ow.ly/2bfRK | @ardinusw [...]

Post a new comment